SEBAGAI PENGUKUR HIJAB

Ketika menunggu situasi yang jarang terfikir untuk porses dialektika terhadap sosial, secara tidak langsung kemunduran sering dialami melalui keharusanku untuk memilih beberapa pilihan yang semua salah. Pada akhirnya banyak kemungkinan kesadaran sedikit terkikis realitas faktual. Yang padahal disegala bentuk keadaan pandangan ini dituntut kritis secara logis. Tidak dipungkiri daku tersesat kemunafikan ditengah lautan mati tanpa tau semua ini harusnya fana. 
Bagaimana untuk membangkitkan atau Need Spirit agar terkemas indah dan disiplin proses dialektika kehidupan di dunia ini demi kebaikan yang menjadi tuntutan dan kebutuhan aktualitas hari ini juga esok. Ditengah persimpangan ombak dalam arus globalisasi ternyata masih banyak diantara para nahkoda yang berlayar memerangi kemungkaran orang-orang yang telah mengotori lautan tanpa pertanggungjawaban. 
Kealfaan karena kamiskinan ilmu membuat hati semakin buta realitas dan menjadi ciri para hubuddun'ya. Lagi-lagi disusul nafsu yang mulai menggurui dan didorong bisikan iblis untuk bertindak sesuai keinginannya. 
Diakhiri kerdipan mata memandang sebagai pengukur hijab, lalu bibir tersenyum sembari menganggukkan kepala karena indah dan keta'dzimannya atas nikmat yang melimpah ditiap hela nafasnya dari Tuhannya. 

Bersambung.......

Related Post

Next
Previous

0 Komentar: