Zaman Edan Stadium 3

(Sebuah Refleksi Dari Realitas Sosial)
Disini bukan sebuah konsekuensi layaknya lelucon atau adegan yang berimplikasi pada kepentingan sepihak, egosentrisme. Atau juga bukan pembunuhan masal terhadap kaum matrialime saja, karena seorang arif akan mengatakan; betapapun Tuhan telah Adil dan Bijaksana, yaitu dengan adanya mereka kita mampu mengukur sekala prioritas kebutuhan hidup kita yang hanya akan kandas pada faham sekulerisme. Kemungkinan dengan mempertahankan polo hidup sederhana (dengan bersyukur) secara bertahap akan melumpuhkan beberapa realitas matralisme-sekulerisme.
Kemudian yang terjadi, dimana fenomena2 akhir ini memungkinkan kerusakan pada konsep berfikir dan beberapa sistem yang kemudian mempengaruhi khalayak global, sehingga menimbulkan bergesernya kepentingan dari sekian kebutuhan hidup masyarakat. 

Kepentingan-kepentingan sekunder menjadi primer, begitupun sebaliknya tidak jarang dialami oleh kaum remaja. Sedangkan para petinggi Negara disimbolkan dengan gaya mencuri menggunakan dasi juga berpeci, dan didukung para pendekar yang beridentitas Islam dengan ditandai jenggot dan berkening agak hitam. Entah kepalanya digosok-gosokkan dengan batu atau dengan aspal saya juga kurang tau, hehehee :D
Selama itu berduit, dengan berbagai cara apapun akan dilakukan. Ditambah menjelang pilpres 2014, dimana budaya kapitalis dengan gaya pencitraan telah menduduki latar media massa dengan komposisi pembodohan dan pembunuhan karakter terus berlangsung. Hal ini sebenarnya menjadi indikasi polemik bagi masyarakat Nusantara, lagi-lagi kepentingan dan kepentingan. Hilangnya akal sehat untuk menemukan makna-makna dibalik peristiwa di zaman edan stadium 3 seperti saat ini seharusnya membuat mata dan telinga kita sadar. Pertanyaan yang muncul, apakah alat pengorek telinga cottonbath gaya modern belum mampu membuang kopok yang menghambat pendengaran ini?!!  Hehehe :D
Kerumitan termasuk kegelisahan dewasa ini semakin mendesak untuk segera mempertanggungjawabkan seluruh upaya keras bersama misi besar kelangsungan hidup yang bersifat sementara, agar mulai memaknai dan menggeser posisi degradasi kepada hal2 konstruktif-edukatif. Belajar dari proses kemandirian yang diemban sebagai manusia Jawa, dibutuhkan tiga hal untuk merayapi zaman edan stadium 3 seperti saat ini, yaitu; “Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruwat” (Jawa dibawa, Arab dipelajari, Barat disaring). Alhasil, manusia dengan kedirian yang utuh secara prinsip dan dasar menuju tauladan insan kamil (Muhammd bin Abdillah SAW.).
Masalah-masalah sosial yang semakin ruwet ini, semoga membuat sadar untuk segera menggerakkan laju menuju kebangkitan nusantara, minimal diawali pada diri kita sendiri sobat... :)

18.8.13




Related Post

Next
Previous

0 Komentar: