Identitas Mahaisiswa Komunikasi Islam I



Pertanyaannya pertama seseorang calon/ mahasiswa Komunikasi yang mengemban misi Islam, mampukah sarjana-sarjana Komunikasi Islam yang notabene agen of change merubah fungsional peran media dalam masyaraka dan pemerintah bersama para pengidola politik? yang harapannya sejalan tanpa dikuasai raja kapitalis sehingga masyarakat benar-benar puas tidak malah gelisah ketika mendapatkan informasi yang katanya akurat, lugas, dan terpercaya itu.
Melihat adanya kepentingan yang tidak akan terlepas dari berbagai aspek kehidupan baik pendidikan, ekonomi, politik sampai sosial. "Kepentingan" disini melahirkan berbagai versi/metode/cara demi tercapainya tujuan secara internal ataupun eksternal suatu lembaga/institusi.
Persekutuan mulai dijalin untuk saling menguntungkan satu sama lain. Sedang media dikatakan sebagai kontrol sosial, sebagai cermin untuk memperjelas kejadian didalam maupun diluar, diatas maupun dibawah. disisi lain media seakan menjadi produk sejarah dan kebenaran dimata masyarakat. mengingat adanya suatu kepentingan dalam segala aspek kehidupan, begitupun institusi media. ditengah kepentingan lembaga pers terdapat permanin antara elit politik dengan elit bisnis yang melahirkan kapitalisme yang sebenarnya tidak diketahui oleh masyarakat melalui isi/teks media (berita/opini/film dll.).
Hal itu menunjukan bahwa media massa hari ini telah melenceng bahkan lari jauh dari profesionalitas dalam memberitakan kebenaran yang sedang terjadi (realitas). membuat masyarakat makin tidak jelas dengan adanya suatu kejadian disegala aspek dengan penyajikan yang malah menggelisahkan pembaca/penonton. sedang tuntutan dalam teori pers bahwa masyarakat dipandang mampu (dewasa) dalam memperhatikan dan memaknai teks media/berita dan kebenarannya.
Kemampuan mahasiswa Komunikasi Islam dalam mengkontruk persekongkolan elit bisnis dengan elit politik ditengah institusi media terasa berat tuntutannya ditengah idiologi media di Indonesia ini yang menganut pers liberal (Lebertarian Theory: Sibert 1956). Elit politik & media bukan sebatas mesin penghasil uang, namun lebih dari itu menguras pemikiran dan harta rakyat. 
Media hari ini mempelopori masyarakat dg idiologi kepentingan sepihak dari para penggerak institusi media dg berbagai kepentingan klompok masing-masing. Yang pada akhirnya semua informasi dikendalikan oleh para elit dancuk itu... Sedang masyarakat taunya informasi adalah visualisasi/gambaran kebenaran tentang realitas dari yg diberitakan itu. Harapannya hal ini bukan sebuah crita belaka, tanpa adanya niatan bersifat solutif dan konstruktif... Orang Jawa Timur mengatakan "Demokrasi dancok!!", diumumkan dari rakyat oleh rakyat utk rakyat, praktiknya bulus bertanduk dua! 
Berangkat bersama suatu pergerakan yang dilahirkan dari kesatuan dan nurani masyarakat akan berlangsungnya interaksi. kelemahan antar satu dg yg lain seimbang. Bukan sbatas cerita atau kenyataan ironis yg di diamkan, setidaknya melalui satu pemikiran mendasar terkait media massa yg terus menggemborkan isu dan menggelisahkan masyarakat itu sudh lumayan...
Kenyataan kaum kapitalis adalah raja di masa sekarang, perkara ini mengharapkan peran mahasiswa dengan bekal keilmuan dan skill cukup utnuk setidaknya meminimalisir peperangan yang tidak pernah ada henti-hentinya ini.



Bersambung.....


Related Post

Next
Previous

0 Komentar: