Tidak Memihak Tetapi KAFFAH




Kealfaan dalam memaknai disetiap yang dilihat dan yang dirasa tentang hakikat kehidupan hanya mewarnai jiwa saja. Tanpa difahami untuk menjadi pelajaran dan dasar perjalanan didunia ini. Sepenggal dari suatu realita yang berisi titah Tuhan hangus karena dirinya merasa bisa dan sanggup memenangkan peperangan antara dirinya sendiri dengan nafsunya tanpa petunjuk dan ridhoNya.
Ambil saja contoh kecil dari tetangga yang sedih kehilangan semua harta bendanya diakibatkan terlalap api karena kecerobohan yang sepele, kompor gas lupa belum dimatikan.
        Kejadian lain seorang pelajar hendak bergi kekampus tiba-tiba ditabrak truk dari belakang karena remnya blong. Sangat tidak diduga-duga. Serasa tragis kehidupan ini.
        Fakta tidak mungkin kita pungkiri untuk dipilih. Lantas kesimpulan seperti apa yang setidaknya mampu memberikan titik terang tentang tiap-tiap realitas yang serat dengan fatwah? Apakah kemudian kita harus selalu tegas untuk memilih dan bertindak dalam segala hal? Atau menunggu bola datang didepan kita? Keadaan sudah tidak difilter dan tercover oleh akal dan hati menjadi penyesalan dan kenestapaan.
        Dengan bekal sekelumit kepercayaan tentang Tuhan yang maha bijaksana lagi maha pemurah. Dan sederet pengalaman yang sudah terlewati agar tidak masuk lubang kedua kalinya. Sosok manusia yang sudah diberi akal dan hati untuk memperjelas kesimpulan tentang kehidupan didunia ini tentu tidak linier dalam memaknainya. Ingat, peran Tuhan mutlak dalam segala haikat. Artinya kita tidak bisa apa-apa tanpaNya, namun Dia memberi kelonggaran atas takdir yang dapat diubah. Tentunya melalui usaha dan doa kita. Jangan menunggu keajaiban…..



Related Post

Next
Previous

0 Komentar: