Membangkitkan Kebangkitan; Paradigma Baru Kemandirian

by Noe Letto

Ribut benar acara-acara Kebangkitan Nasional, dan saya cari-cari di mana diriku di tengah keramaian itu. Berhubung tidak menemukan diriku, maka saya mengandaikan diriku ini cukup penting di tengah orang banyak sehingga ada yang bertanya apa aspirasi saya tentang Kebangkitan Nasional.
 Nekad sayapun menulis tentang sesuatu yang jauh lebih besar dari diriku, yakni nilai-nilai
yang melandasi sikap untuk bangkit sebagai bangsa, dengan judul ‘sombong’ sebagaimana
yang Anda baca. Pastilah, nilai yang diyakini dan dilaksanakan seseorang akan propagate ke mentalitas dan kualitas decision making yang seseorang itu. Nilai yang diyakini dan dilaksanakan sebuah generasi akan membawa perubahan pada generasi tersebut dan berpengaruh pada generasi setelahnya.
            Coba saya tuliskan sejumlah konten sikap dasar itu, memulai dari diriku sendiri, misalnya: Mendapatkan kesenangan tanpa ada yang disusahkan. Sebuah sikap dasar yang menumbuhkan empati, membunuh budaya egoisme, menang sendiri dan tak mau peduli. Kabarnya, itu yang disebut saleh dalam Agama: kebaikan dan kebenaran yang ketika diterapkan di dalam dialektika tatanan sosial — tak ada yang tersakiti.
 Mendapatkan keuntungan tanpa ada yang dirugikan. Sikap dimana kesempatan eksploitasi tak diberi ruang sedikitpun. Jika sebuah transaksi (dalam arti luas) terjadi tanpa ada pihak yang merasa dirugikan, outputnya adalah keikhlasan dan rasa bersyukur. Tanpa eksploitasi keadilan akan relatif lebih terjamin, dan kreativitas akan lebih terpacu (karena tak ada jalan pintas untuk mengambil keuntungan).
       Tidak berprasangka tapi tetap waspada. Memberi kesempatan setiap orang untuk berbicara selengkap-lengkapnya dan memberikan haknya untuk dinilai secara obyektif. Seringkali kita seseorang harus menjadi tokoh dulu untuk didengarkan apa yang dia katakan. Padahal alangkah lebih baiknya kalau kita mendengarkan perkataan siapapun terlebih dahulu, baru memutuskan apakah dia seorang tokoh atau bukan.
         Berfikir kekinian tanpa melupakan masa lalu dan merugikan masa depan. Pembalakan hutan, pembangunan real estate di area serapan air yang menimbulkan banjir kedepannya, sistem pendidikan baru, dst, membutuhkan parameter jelas untuk disikapi : apakah ditolak atau didukung. Mau belajar dari masa lalu, merevisi tindakan yang dilakukan sekarang untuk menuju masa depan yang lebih baik untuk semua. Budaya menganalisa sangat dibutuhkan untuk secara tepat menentukan langkah kedepan.
        Berfikir global sebagai jenius-lokal. Kesadaran akan posisi kita pada pemetaan dunia tanpa meninggalkan ‘local-wisdom’ yang sudah terbangun dari peradaban ribuan tahun, akan memberi filter terhadap budaya yang masuk, memberi perspektif lebih luas kepada cara pandang kita sembari mengokohkan jati diri sebagai sebuah bangsa yang beradab.
        Kedaerahan yang Indonesiawi. Kemampuan menggali budaya lokal, mampu mengukur kemampuan potensi lokal, dalam skala frame pemikiran untuk akselerasi kemajuan Nasional.
       Time is money. Bukan dari budaya kita kata-kata itu lahir. Jika money adalah ukuran keberhasilan, maka kita harus mendefinisikan kembali konsep itu yang sesuai dengan akar budaya kita. Katakanlah money sama dengan laba (profit dan benefit).
        Laba ekonomi tidak menghilangkan laba kemanusiaan, laba sosial dan laba budaya. Kemapanan ekonomi yang kehilangan kemanusiaannya akan menimbulkan iri dan dengki. Keuntungan ekonomi yang melupakan nilai sosialnya akan menimbulkan kesenjangan dan keresahan. Keuntungan ekonomi yang meninggalkan budaya akan mereduksi manusianya menjadi manusia yang tak lagi mengenal kemesraan, kebersamaan dan etika. Manusia yang hanya terdefinisi dari jumlah uang yang ia miliki.
        Waktu adalah laba, jika waktu tak pernah terbuang sia-sia. Meredefinisi arti kerja keras dan memberi ruang yang lebih luas pada proses-proses positif, kreatif, yang kadangkala tidak berhubungan langsung dengan proses ekonomi.
        Keringat adalah laba, jika tak satu tetes keringatpun tersepelekan. Ketika setetes keringatpun dihargai, semua manusia berhak memiliki harga dirinya dari usahanya, bukan status sosialnya atau jumlah penghargaan yang mungkin pernah didapatnya.
        Sikap adalah laba, jika berlaku kesadaran bahwa tidak ada hal terlalu remeh untuk dilakukan, sekecil apapun itu. Membangkitkan budaya saling menghargai. Tak ada hal yang dianggap sepele, dan tak ada yang punya hak untuk menyepelekan apapun dan siapapun.
        Keadilan adalah laba. Pentingnya fairplay untuk menjamin kesetaraan kesempatan. Sudahkah kita mendomestikasi Demokrasi? Ataukah Demokrasi masih ‘binatang’ liar di negeri kita? Atau mungkin demokrasi perlu diberi “bumbu” untuk menjadi “barang dalam negri”.
        Kebebasan berbicara dengan dilandasi kesantunan berbangsa. Dasar kesopan-santunan akan relatif memberi filter agar sebuah pesan yang akan disampaikan tidak menimbulkan ketegangan secara bahasa sebelum dicerna substansinya.
       Kebebasan berpendapat dengan dilandasi kemaslahatan bersama. Seringkali kebebasan berpendapat digunakan untuk mengakomodasi perseteruan personal. Kita dipaksa menjadi penonton ‘pertarungan politik’ yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemaslahatan bersama. Nilai ini akan memberi pagar pada hal-hal seperti itu. Kebebasan berekspresi yang mengekspresikan Indonesia. Paling tidak kita harus menjadi tuan di rumah sendiri.
       Banyak nilai yang bisa kita anut. Banyak deklarasi yang bisa kita teriakkan. Tapi pertanyaan fundamentalnya adalah seberapa teguh konsistensi kita untuk bisa terus bertahan pada sebentuk nilai, minimal sampai titik waktu tertentu yang akan membawa perubahan yang mendasar. Sambil memastikan bahwa nilai-nilai ini tertular pada generasi penerus kita.
       Saya tidak berpendapat bahwa itu semua ada manfaatnya bagi siapapun, tapi minimal saya bisa menghibur hati kecil saya sendiri bahwa “Tuan” nya ini mau belajar menjadi manusia dan mencoba “menjadi sebuah generasi”.
Jakarta, 15 Mei 2008


Add caption

Related Post

Next
Previous

0 Komentar: